Halaman

Kamis, 03 Agustus 2017

Rindu Namun Hilang

Ada yang sedang berduka cinta 
Saat sedang mempercayakan cinta dan tengah mendapat penghibur hati
Ia dilepaskan begitu saja

Ingin teriak meluapkan isi hati
Namun apa daya? 
Sering kali orang meremehkan setitik rasa
Kata mereka? Ah begini saja? Ah begitu saja? 
Kamu terlalu lemah! Kamu terlalu mendalami perasaan! 

Kuakui memang hatiku terlalu mudah memperasakan setiap rasa
Tapi ini aku ,  ini hatiku
Sedang kamu? Kamu tak mampu menyelaraskannya

Sampai saat ini?! 
Aku masih mendalami peranku
Peran di mana aku ingin melihat senyum di wajahmu (lagi) 
Lalu ,  kapan pelipur hati akan datang? 


4 Mei 2017 , Siti Jazimah 

Hujan Kali ini

Sore ini
Hujan turun begitu deras
Hantaman petirnya mampu membuat jantung ini bergetar 

Di rumah kecil ini aku termenung 
Menyaksikan suara rintik mu yang menakutkan
Bagaikan marah karena alam yang terabaikan 

Seperti biasa ,  sore ini ingin kududuk bersantai
Ditemani secangkir teh dan televisi cembung keluaran terdahulu
Namun semua itu terlewati
Karena hujan kali ini datang dengan marah - marah

Kilatnya sering kali menyambar kegundahan ini
Titik - titik hujan membasahi dinding rumahku
Aku semakin tak bisa berpikir
Petir mu terlalu garang hingga aku tak sanggup berkata

Pikiranku buyar, 
Aku butuh sosok yang mampu menenangkan
Maafkan aku yang telah mengabaikanmu, hujan
Cukup aku dan kamu 
Jangan sampai ada petir di antara kita


3 Mei 2017 ,  Siti Jazimah 

Sosokmu Dulu, Buatku Rindu

Pagi itu kulangkahkan kaki
Semangat menggebu dan cucuran keringat
Kunaiki kereta listrik itu bersamamu
Perlahan kau ajari aku tentang cara itu
Aku sesekali mengangguk

Senyuman ramahmu dan gerak gerak katamu
Membuatku rindu engkau yang dulu
Namun kusadari kamu tak mungkin seperti dulu lagi ,  aku sadar!

Namun , kali ini Tuhan menyisakan sedikit waktumu untukku
Kau temaniku
Stasiun Senen menjadi alasan agar kau mengantarku

Ku gendong tas beratku menjauh darimu
Ada sedih yang tak terungkapkan
Ada bahagia yang tak terucapkan
Tetesan air mata mengiringi kepergianku
Aku hanya rindu kamu yang dulu ,  Bang!


2 Mei 2017 ,  Siti Jazimah
Jangan pura - pura untuk rindu
Saat dirimu merasa sendiri
Rindu itu pedih
Rindu itu perih
Rindu itu sakit
Jika kau tahu tentang rindu
Jangan biarkan orang lain sampai merindumu!

30 April 2017
Semerdu rintik hujan
 yang merindukan baunya tanah
Seperti rindu yang meyeruak
 semerbak mengharumkan bunga
Seperti angan yang menusuk
 merangkak perlahan membuat sesak 

28 April 2017

Puisi Untuk Sahabatku

Sahabatku mulai pergi 
Pergi meninggalkan ku
Sendiri menghadapi kedewasaan ini
Ia sudah tak peduli lagi 

Yang ia pedulikan hanya tentang tambatan hatinya
Yang ia pedulikan  hanya tentang uang kertasnya

Selalu kusisipkan sapa salam untuknya
Bukti bahwa aku merindukan nya 
Namun apa ,  dia lebih sadis
dan tak peduli kelihatannya
Apa kau tak rindu aku ,  tentang aku ,  tentang kabarku?! 

Sahabatku ,  aku merindukan mu
Cobalah tersenyum dan sejenak menyapaku
Tentang ,  malam ini saja! 


24 Maret 2017,  Siti Jazimah 

Aku Bukan Lagi Aku

Aku terjebak dalam aku
Di keheningan malam bersama rintiknya hujan
Aku melebur dalam sepi
Sepi yang tak kunjung juga pulih

Aku ingin lepas dari aku
Aku tak sanggup berdiri
Aku mengecil ,  tersungkur  dan tersingkir
Sungguh! Bayang -  bayang itu selalu muncul menakutkan

Aku ingin lepas ,  terbang bebas
Aku semakin terjebak dalam aku

Dikebohongan ini aku ingin  sudahi
Sudahi merangkak ,  menggigil yang terpaut bayang hitam
Bergabung bersama mimpi 
Mimpi yang pernah kuimpikan
Mimpi - mimpi yang dulu kurangkai
Kurangkai sebegitu  indahnya 
Kuukir sebegitu eloknya

Aku ingin lepas dari aku
Aku semakin sesak menjadi aku
Aku sadari aku sudah semakin beda
Mungkinkah aku mulai gendats? 


11 Februari 2017, Siti Jazimah